Niat

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, teman-teman.

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas kita ucapkan selain rasa syukur kita kepada Allah, yang telah memberi kita kesempatan hidup dan buanyak banget nikmat yang sudah dikaruniakan-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada Nabi dan Rasul terakhir yang tidak ada lagi setelahnya, The Best Role-Model in The World, manusia terbaik, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam, kepada keluarganya, shahabat, tabi’in, dan umatnya hingga akhir zaman. Dan semoga kita kelak mendapat syafaat di yaumil qiyamah kelak aamiin.

Alhamdulillah ini adalah post pertama yang memiliki bobot materi hehe, sebenernya gak mau terlalu serius sih. Saya inginnya kita belajar tapi asyik dan enjoy melalui blog ini. Semoga bisa bermanfaat ya kedepannya, aamiin.

Oke kita langsung masuk ke inti dari tulisan ini. Ya, sesuai judul, kita akan sedikit membahas tentang niat.

Sebagaimana yang teman-teman tau, bahwa niat itu adalah awal dari segalanya. Kita mau berbuat baik pasti ada niatnya, bahkan, kita mau berbuat buruk juga ada niatnya. Gak percaya? Masa iya sih semua perbuatan kita dilakukan dengan ketidaksengajaan? Pastinya kita kalau mau berbuat sesuatu pasti ada niat. Jangan jauh-jauh ke perkara ibadah, kita mau makan, mandi, sekolah, kerja, pasti ada niatnya.

Nah sekarang kita bakal bahas niat dalam kacamata agama. Niat ini suaaaangaat penting lho dalam beribadah. Menurut Imam Syafi’i rahimahullah, niat itu masuk pada 70 bab Fiqih, jadi penting banget, kan?

Pada matan Hadits Arba’in karya Imam An Nawawi, beliau rahimahullah menempatkan hadits mengenai niat pada urutan pertama. Hadistnya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Kebanyakan para Ulama pun mencantumkan bab niat pada awal mukadimah kitab yang ditulis oleh mereka, contohnya adalah Imam Bukhari.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat.

Pasti udah gak asing kan sama hadits “Innamal a’malu binnyat” itu? Tapi terusannya pasti pada gak hafal (sama sih saya juga hehe). Nah, hadits ini tuh turun saat peristiwa hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dari Mekkah ke Madinah. Ceritanya, ada seorang sahabat yang ikut hijrah ke Madinah tapi niatnya adalah karena wanita yang ingin dinikahinya ikut hijrah juga. Jadi niatnya bukan karena Allah dan RasulNya. Makannya ada lafadz “… Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” itu disebabkan oleh peristiwa tersebut.

Jadi, sangat penting lho untuk meluruskan niat kita karena Allah. Sebab, kalau niat kita gak ikhlas karena Allah, amal kita akan sia-sia. Sebab, syarat diterimanya amal ibadah ada 2, yaitu Niat yang ikhlas dan Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Jadi bisa kita ambil kesimpulan bahwa Niat itu merupakan setengahnya ibadah kita.

Niat itu sebenernya harus dijaga saat ibadah kita, dari mulai awal ibadah – saat ibadah itu berlangsung – setelah ibadah itu selesai. Oleh karena itu, menjaga lurusnya niat itu seperti saat kita nelepon pake telepon koin lho (zaman kapan ini wkwk). Saat kita menelepon dan waktunya mau habis, kita isi lagi pakai koin yang baru. Begitu pula dengan menjaga kelurusan niat, apabila niat kita sudah ada tanda-tanda mau melenceng, segera kita perbaharui niat kita agar senantiasa lurus kembali karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Sudah dulu ya, semoga tulisan saya ini bermanfaat khususnya buat saya pribadi, dan umumnya buat temen-temen yang baca.

Assalamu’alaikum!

Referensi: https://muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s